Perbedaan Hipertensi Gestasional Dan Eklampsia Serta Cara Menyembuhkannya

Hipertensi, merupakan penyakit yang sudah tidak asing bagi kita semua. Namun taukah anda, saat proses kehamilan, ada beberapa komplikasi yang mungkin saja terjadi. Dimana komplikasi tersebut biasanya berhubungan dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Apabila dibiarkan begitu saja, maka hipertensi dalam kehamilan akan membahayakan ibu dan janin yang ada di dalamnya.

Umumnya, komplikasi yang terjadi pada proses kehamilan dan berkaitan dengan hipertensi dibagi menjadi 3 jenis. Mulai dari hipertensi gestasional, preeklamasi, dan eklampasia. Walaupun dianggap sama, namun ketiganya memiliki beberapa perbedaan yang mendasar.

Disini penulis hanya akan menjelaskan perbedaan antara hipertensi gestasional dan eklamasi. Jadi, pastikan Anda membacanya hingga selesai ya. Berikut adalah beberapa perbedaan hipertensi gestasional dan eklampsia pada ibu hamil.

Apa Itu Hipertensi Gestasional

Penjelasan Gambar Hipertensi Gestasional

Hipertensi gesatosinal adalah sebuah kondisi yang ditandai dengan munculnya tekanan darah tinggi selama proses kehamilan. Hal tersebut dapat menyebabkan kondisi yang serius. Dimana hipertensi jenis ini bisa mempengaruhi 6-8 persen ibu hamil.

Kondisi tersebut umumnya terjadi setelah 20 minggu masa kehamilan dan pasca melahirkan. Namun dalam kurun waktu 6 minggu setelah melahirkan, kondisi tersebut dapat kembali normal. Akan tetapi jika Anda mempunyai riwayat tekanan darah tinggi, yaitu berkisar 140/90 mmHg pada saat sebelum hamil ataupun pada awal masa kehamilan. Maka Anda berpotensi mengalami hipertensi gestasional walaupun sudah melahirkan.

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi gestasional pada diri Anda. Antara lain, pada saat kehamilan pertama, kehamilan bayi kembar, obesitas atau kelebihan berat badan sebelum hamil, dan wanita yang hamil di umur 40 tahun ke atas. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit hipertensi dan preeklampsia pada kehamilan sebelumnya juga berisiko mengalami kondisi tersebut.

Hipertensi gestasional bisa membuat plasenta tidak memperoleh cukup darah. Sehingga membuat janin kekurangan oksigen. Untuk mengatasi gestasional, terdapat obat penurun tekanan darah yang dapat Anda gunakan. Namun sebelum mengonsumsinya, ada baiknya Anda berkonsultasi atau periksa terlebih dahulu ke dokter untuk mengawasi tekanan darah Anda semasa hamil.

Apa Itu Hipertensi Eklampsia

Hipertensi Eklampsia adalah komplikasi yang sudah parah dari preeklampsia. Hal tersebut tidak hanya ditandai dengan munculnya tekanan darah tinggi. Akan tetapi juga terjadinya kejang, koma, hingga kematian pada ibu hamil. Walaupun sebelumnya Anda tidak mempunyai riwayat kejang, namun Anda tetap bisa mengalami hal tersebut apabila terkena eklampsia. Adapun gejala dari kondisi tersebut yaitu kejang, gelisah berat, dan hilangnya kesadaran. Selain itu, eklampsia juga bisa disertai dengan munculnya gejala preeklampsia maupun tidak. Oleh karena itu, Anda perlu berhati-hati dan waspada dan rutin melakukan periksa kehamilan.

Apabila Anda pernah mengalami preeklampsia. Maka Anda memiliki risiko mengalami eklampsia. Hampir sama dengan kondisi preeklampsia, eklampsia juga bia mempengaruhi plasenta. Sehingga bisa menyebabkan janin terlahirdengan berat badan yang kecil, prematur, bahkan kematian.

Tak hanya itu saja, Anda juga berisiko mengalami banyak komplikasi, mulai dari store, penyakit hati, sakit jantung, hingga kematian. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa penanganan kondisi eklampsia adalah dengan persalinan. Selain itu, Anda juga membutuhkan obat untuk mencegah kejang yaitu obat penurun tekanan darah dan obat antikonvulsan.

Penyebab Terjadinya Hipertensi Pada Ibu Hamil

Penyebab munculnya tekanan darah tinggi pada ibu hamil belum diketahui secara pasti. Akan tetapi terdapat sejumlah kondisi yang bisa menyebabkan ibu hamil berisiko mengalami hipertensi. Berikut adalah beberapa kondisi yang perlu Anda waspadai:

  • Memiliki riwayat darah tinggi sebelum hamil
  • Mempunyai riwayat penyakit ginjal ataupun diabetes
  • Berusia kurang dari 20 tahun atau di atas 40 tahun saat masa kehamilan
  • Hamil bayi kembar
  • Memiliki kelebihan berat badan atau obesitas
  • Mengalami gangguan sistem imun

Hipertensi yang terjadi pada saat kehamilan bisa menyebabkan sejumlah komplikasi seperti keguguran, kerusakan organ, prematur, aliran darah ke dalam plasenta terganggu, dan penyakit lainnya.

Itulah beberapa penjelasan mengenai perbedaan hipertensi gestasional dan eklampsia. Serta beberapa kondisi yang berisiko menyebabkan terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Perlu Anda perhatikan bahwa masa kehamilan memang sangat berisiko. Oleh karena itu, Anda harus rutin memeriksakan kondisi kehamilan Anda dan menjaga kesehatan diri dan janin. Hal tersebut bertujuan agar kehamilan Anda tidak terganggu dan bisa sehta hingga melahirkan.

Terlebih untuk Anda yang memiliki riwayat penyakit tertentu, Anda harus rajin berkonsultasi kepada dokter yang ahli dalam menangani kandungan dan ibu hamil.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *