Seks Bebas Penyebab Utama HIV/AIDS di Sumbar

Data Dinas Kesehatan Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan jumlah angka penderita HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) terus meninggi. Meningkatnya kasus tersebut disebabkan oleh hubungan seks luar nikah, bukan karena penggunaan jarum suntik narkoba, seperti sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri mengatakan angka penderita HIV/AIDS hingga akhir tahun 2014 di daerah ini, sebanyak 923 kasus HIV dan 1.173 kasus AIDS, terhitung sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1992 di Ranah Minang.

Meningkatnya kasus AIDS, karena kasus HIV yang ditemukan 5 tahun sebelumnya, yang kemudian menjadi AIDS.  AIDS merupakan penyakit yang berasal dari virus HIV. Virus HIV membutuhkan waktu 5 tahun menjadi AIDS.

Temuan kasus HIV terbaru, lebih banyak disebabkan oleh hubungan seks bebas atau luar nikah. Sementara kasus HIV yang lama, disebabkan penggunaan jarum suntik narkoba yang dipakai secara bergantian oleh pemakai.  Jumlah penderita yang terbanyak, masih di Kota Padang. Kasus tersebut terbanyak di Kota Padang karena jumlah penduduknya terbanyak daripada kabupaten/kota lain di Sumbar.

Untuk menekan angka penderita HIV/AIDS di Sumbar, Dinas Kesehatan Sumbar membentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di setiap kabupaten/kota. KPA terus menyosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS, cara pencegahannya, gejala yang dialami seseorang apabila mengidap HIV/AIDS, dan sebagainya.

Sedangkan hasil penelitian, selama enam bulan pada satu rumah sakit di Kota Bukittinggi yang dilaksanakan mahasiswa STIkes Fort de Kock Bukittinggi, terdapat 47 orang penderita baru HIV/AIDS di kota wisata tersebut. Penelitian dilakukan Januari-Juli 2014. Dari hasil penelitian itu juga diketahui 49,6 persen pasien tertular AIDS melalui jarum suntik, 40,3 persen tertular melalui seks bebas, 6,2 persen tertular melalui konsumsi Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) dan 3,9 persen tertular melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Di rumah sakit tersebut ditemui 127 penderita AIDS, yang mana 82 orang di antaranya, atau sekitar 64 persen berjenis kelamin laki-laki, dan 47 orang atau 36 persen berjenis kelamin perempuan.

Pada umumnya penderita AIDS itu berada pada usia reproduktif, di antaranya tiga orang atau 2,5 persen berusia 10 hingga 20 tahun, 30 orang atau 23,4 persen berusia 21 hingga 30 tahun, 75 orang atau 58 persen berusia 31 hingga 40 tahun, dan 21 orang atau 16,3 persen berusia 41 hingga 50 tahun.

Kasus HIV/AIDS menjadi masalah yang paling serius di kota yang terkenal dengan Jam Gadang dan kuliner Rumah Makan Nasi Kapaunya. Bukittinggi berada pada peringkat kedua tertinggi jumlah penderita HIV/AIDS di Sumbar pada tahun 2014 setelah Padang, dengan jumlah pasien yang terdaftar di salah satu rumah sakit di Bukittinggi berjumlah 150 orang.

Masyarakat Kota Bukittinggi dan Sumbar pada umumnya tidak perlu kaget dengan tingginya angka penderita dan tergejala HIV/AIDS di kota tersebut. Karena memang persoalan HIV/AIDS merupakan salah satu tantangan dari sebuah kota wisata yang banyak dikunjungi turis asing dan lokal setiap hari.

Para wisatawan tersebut sebagian di antaranya ada yang memiliki kebiasaan buruk, seperti gonta ganti pasangan, mengkonsumsi narkoba melalui jarum suntik yang digunakan secara bersama-sama dan lain sebagainya. Melalui media hubungan seks bebas, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan data yang telah terungkap ke publik, maka pihak-pihak terkait di Kota Bukittinggi dan Sumbar pada umumnya mesti menangani masalah ini secara serius. Para penderita atau orang yang terjangkit HIV/AIDS mesti perlakukan dengan baik.

Bukan maksud ingin  mengucilkan orang yang tertular atau terkena HIV/AIDS, tapi karena keberadaan dan kegiatan mereka harus terpantau.

Terkait dengan penanganan HIV/AIDS, pemerindah daerah tidak hanya sibuk mengurus peningkatan pariwisata, namun lupa mempersiapkan dampak dari peningkatan pariwisata itu sendiri. Padahal seks bebas, penggunaan jarum suntik beramai-ramai saat mengkonsumsi narkoba, transfusi darah merupakan media yang paling  banyak menjadi penghantar berjangkitnya HIV/AIDS. **


sumber: http://www.harianhaluan.com/index.php/haluan-kita/37575-seks-bebas-penyebab-utama-hivaids-di-sumbar-