KPA Nasional meluncurkan Buku dan Videographic Pedoman Nasional Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) Paripurna

SIARAN PERS

 

KPA Nasional meluncurkan Buku dan Videographic

Pedoman Nasional Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) Paripurna

 

Jakarta, 20 Januari 2015 – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional bekerjasama dengan United Nations Fund for Population Avtivities (UNFPA) meluncurkan Buku Pedoman Pelaksanaan dan Videographic Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) Paripurna, bertepatan dengan diselenggarakannya Pertemuan Evaluasi Nasional 4 instansi dan organisasi penerima utama dana Global Fund untuk penanggulangan AIDS di Indonesia, bertempat di Hotel Novotel Gajah Mada, 20 Januari 2015.

Buku Pedoman Pelaksanaan PMTS Paripurna disusun untuk menjadi panduan pelaksanaan PMTS Paripurna oleh berbagai instansi/lembaga/organisasi yang bergerak di bidang penanggulangan AIDS. Sementara pengembangan Videographic PMTS Paripurna dimaksudkan untuk memperkuat dan memudahkan pelaksana program dalam memahami PMTS Paripurna secara detil dan menyeluruh. Penggunaan media digital ini selaras dengan perkembangan teknologi informasi, dimana /instansi/organisasi/lembaga dapat dengan mudah mengakses melalui internet.

PMTS Paripurna merupakan sebuah model program yang dicetuskan oleh KPA Nasional dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang lebih kuat, efektif dan komprehensif untuk mendorong semua populasi kunci melakukan perilaku seks aman sehingga mampu menurunkan prevalensi HIV di kalangan populasi kunci. Melalui pendekatan intervensi struktural, program ini menitik beratkan pada terbentuknya struktur sosial yang mengambil dan melaksanakan peran-peran strategis dalam upaya pencegahan HIV sehingga mampu mendorong adanya perubahan perilaku.

Kunci dari pendekatan ini adalah terbangunnya kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan komunitas.

Sekretaris KPA Nasional, Kemal Siregar, menekankan:  “Apabila kita mampu mendorong penguatan kemitraan antara pemerintah, dunia swasta, baik perusahaan maupun individu, komunitas dan media, saya yakin, ke depan, kita mampu menekan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia. Namun demikian, hal yang cukup mendesak saat ini adalah bagaimana mendorong laki-laki untuk lebih terlibat secara positif dalam upaya penanggulangan. Ini penting, karena dengan adanya kepedulian dan keterlibatan laki-laki, saya percaya dapat berdampak terhadap penurunan epidemi HIV.”

Pelibatan laki-laki dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS dapat secara signifikan mengurangi epidemi. Hal ini dikarenakan:

1.       Penguatan pada sisi perempuan saja tidak akan menghentikan siklus kekerasan yang dilakukan oleh pasangan lelaki.

2.       Penyadaran gender tidaklah cukup hanya ditujukan kepada kelompok perempuan, mengingat gender adalah wacana sosial tentang relasi lelaki dan perempuan.

3.       Gerakan kesetaraan gender akan berjalan seimbang apabila lelaki dan perempuan bersama-sama melakukan perubahan sosial itu.

4.       Penyebab utama perempuan rentan terhadap risiko HIV, dikarenakan relasi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, perempuan tidak mempunyai hak politik atas tubuhnya sendiri,dan juga minimnya informasi tentang HIV & AIDS

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan III tahun 2014, tercatat pada periode Juli – September 2014, presentase faktor risiko HIV tertinggi adalah melalui hubungan seksual berisiko pada heteroseksual sebanyak 57%. Penularan melalui transmisi seksual di kalangan heteroseksual juga tercatat sebagai faktor risiko AIDS tertinggi sebanyak 67%.

Di Indonesia, tercatat sebanyak 6,7 juta laki-laki berisiko tinggi (LBT) membeli seks. Tingginya angka LBT berkontribusi terhadap peningkatan kasus HV pada ibu rumah tangga. Berdasarkan data, angka kumulatif AIDS di kalangan ibu rumah tangga hingga September 2014 berjumlah 6.539. Untuk angka kumulatif HIV dan AIDS hingga bulan September 2014 tercatat sebanyak 150.296 orang terinfeksi HIV. Sementara angka kumulatif AIDS tercatat sebanyak 55.799 orang. 

                

 

Komisi Penanggulangan AIDS adalah lembaga negara berdasarkan Peraturan Presiden No. 75/2006 dengan mandat penuh untuk melaksanakan penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi.

 HIV atau Human Immunodeficiency Virus mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. Hindari infeksi HIV dengan melakukan Abstinence Tidak berhubungan seks (Selibat), Be Faithful - Selalu setia pada pasangan, Condom – Gunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi :

 

Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Nasional,

Wisma Sirca Lt 2 Jl Johar No 18 Menteng, Jakarta 10340

Telp (021) 3905918Fax (021) 3905919

www.aidsindonesia.or.id

 

 

Indira Susatio                                                                                            Nathasia Sibarani

Koordinator PIAN & Komunikasi                                                                    Asisten Koordinator Media

Email: indira.susatio@aidsindonesia.or.id                                                       Email: nathasia@aidsindonesia.or.id                               

 

BERITA LAINNYA