Pemerintah bersama Masyarakat Sipil Berkomitmen Untuk Terus Mencegah dan Menanggulangi HIV dan AIDS di Indonesia

SIARAN PERS

 

Pemerintah bersama Masyarakat Sipil Berkomitmen

Untuk Terus Mencegah dan Menanggulangi HIV dan AIDS di Indonesia

 

Jakarta, 20 Januari 2015 – Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, sejak pertama kali kasus HIV ditemukan pada tahun 1987 hingga bulan September 2014, tercatat sebanyak 150.296 orang telah terinfeksi HIV, dimana 55.799 orang di antaranya telah pada tahap AIDS. Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 54%, dan perempuan 29%, sementara itu 17% tidak melaporkan jenis kelamin. Jumlah AIDS tertinggi tercatat pada ibu rumah tangga (6.539), diikuti wiraswasta (6.203), tenaga non-profesional/karyawan (5.638) dan petani/peternak nelayan (2.324).

Secara kumulatif jumlah kasus AIDS berdasarkan provinsi, Papua menempati posisi pertama, kemudian Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Sementara berdasarkan prevalensi, kasus AIDS per 100 ribu penduduk berdasarkan provinsi, Papua menempati posisi pertama, kemudian Jawa Timur dan DKI Jakarta. Laporan tersebut juga mencatat, jumlah Odha yang sedang mendapatkan pengobatan ARV sampai dengan bulan September 2014 sebanyak 45.361 orang. Sementara angka kematian (CFR) AIDS menurun dari 3,8% pada tahun 2012 menjadi 0,5% pada bulan September 2014.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kementerian Kesehatan, Nahdatul Ulama (NU) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyelenggarakan Pertemuan Evaluasi Program Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dengan dukungan pendanaan The Global Fund, Senin – Kamis, 19 – 22 Januari 2015, bertempat di Hotel Novotel Gajah Mada, Jakarta.

Pertemuan dibuka oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K), selaku Wakil Ketua I Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dalam hal ini diwakili oleh Direktur Jendral P2PL Kementerian Kesehatan, dr. HM Subuh, MPH. Dalam sambutan pembukaannya, Menkes antara lain menyampaikan: Penanggulangan HIV dan AIDS  adalah bagian penting dari Pembangunan Kesehatan yang merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional.  Pengendalian HIV dan AIDS  juga sangat relevan dengan Visi dan Misi Pemerintah dan 9 Agenda Prioritas Pembangunan atau Nawa Cita – utamanya dalam  melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, dan melakukan revolusi karakter bangsa. Penanggulangan  HIV dan AIDS dimaksudkan untuk mencegah penularan dan penyebaran HIV dan AIDS pada masyarakat Indonesia. Salah satu pendekatannya  adalah perubahan perilaku berisiko. Di samping itu,  bagi  yang sudah tertular HIV, diberikan terapi ARV untuk mencegah kematian, memperpanjang umur, dan meningkatkan kualitas hidup mereka”.

Turut hadir dalam pertemuan ini, Ketua CCM Indonesia, Prof. Dr. Sudiyanto Kamso, MPH; Ketua TWG AIDS CCM, Dr. Eddie Rachmat, MSC; Ketua Oversiant Committee TWG CCM, Dr. Broto Wasisto, MPH; Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Dr. Kemal N. Siregar; Ketua Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LK NU), Dr. Syahrizal; dan Direktur PKBI, Inang Winarso. Pertemuan ini melibatkan lebih dari 400 orang perwakilan dari ke-empat instansi dan organisasi di tingkat provinsi di seluruh Indonesia, termasuk komunitas terdampak HIV dan AIDS.

Indonesia merupakan salah satu negara penerima dukungan pendanaan The Global Fund untuk penanggulangan AIDS. Selama periode fase 2 (Juli 2012 – Juni 2015), total dana yang dikucurkan oleh the Global Fund untuk Indonesia sebesar USD 111,099,101. Dana penanggulangan AIDS di Indonesia dikucurkan melalui 4 (empat) penerima utama (principle recipient) yaitu Kementerian Kesehatan (USD 52,000,000), Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (USD 29,854,648), PKBI (USD 15,852,802), dan Nahdatul Ulama (USD 13,391,651).

Pertemuan evaluasi ini telah dilaksanakan secara teratur setiap 6 (enam) bulan sekali. Ini sebagai bagian dari manajemen program penanggulangan HIV dan AIDS dukungan GF dalam rangka menaikkan capaian penanggulangan HIV dan AIDS yang telah dilakukan di Indonesia serta sebagai upaya koordinasi dan harmonisasi program. Dibahas pula rencana pelaksanaan program penanggulangan HIV di tahun 2015, khususnya melalui program yang dilakukan dengan pendanaan dari The Global Fund.

Pada tahun 2016, Global Fund akan meluncurkan model pendanaan baru (New Funding Model – NFM) yang merupakan salah satu strategi Global Fund untuk periode dukungan selama 2 tahun sesuai dengan waktu anggaran masing-masing negara.  Untuk program AIDS karena fase 2 akan berakhir Juli 2015. Dalam periode Juli – Desember 2015 sebagai masa transisi ke NFM sudah diajukan proposal fase extension dan sedang di-review oleh LFA sebelum disetujui secara formal oleh GF. Dan saat ini sedang disusun concept note NFM untuk kelangsungan periode Januari 2016 sampai dengan Desember 2017.

New Funding Model diluncurkan dengan maksud untuk memberikan dampak yang lebih luas, dengan hasil yang lebih dapat dipertanggung jawabkan, untuk mencapai target yang tinggi, berdasarkan kinerja program yang terarah dan fokus dengan pendekatan yang lebih efisien. 

Perbedaan mendasar antara GF Funding Model yang telah berjalan dengan New Funding Model ini terdapat pada penguatan peran Sekretariat GF untuk membantu negara melalui pengelolaan portofolio. Hal ini memungkinkan negara yang mengajukan proposal pendanaan untuk penanggulangan HIV dan AIDS mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mendapatkan dana Global Fund.

Oleh karena itu setiap negara yang mengajukan NFM sebagai salah satu syarat adalah perlu  menyiapkan  Strategi dan Rencana Aksi Nasional 2015-2019,  melibatkan seluruh stakeholder termasuk komunitas, tersedianya data epidemiologi termasuk analisis secara tajam, review program, kontribusi dana negara sebesar 40%,  jaminan  kualitas CCM dan PR sebagai syarat pengajuan NFM.

Mengambil momentum pelaksanaan Pertemuan Evaluasi Nasional dan Penyusunan Rencana Kerja Penanggulangan HIV dan AIDS Dukungan Dana Global Fund ini, agenda penting lainnya, diantaranya:

  1. Sosialisasi tentang Pelibatan Laki-laki Dalam Program PMTS’ oleh KPA Nasional (Selasa, 20 Januari 2015, 15.30 – 16.30)
  2. Peluncuran Video Graphic Recording PMTS Paripurna’ oleh KPA Nasional bersama UNFPA: (Selasa, 20 Januari 2015, 19.00 – 21.00)

Komisi Penanggulangan AIDS adalah lembaga negara berdasarkan Peraturan Presiden No. 75/2006 dengan mandat penuh untuk melaksanakan penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. Hindari infeksi HIV dengan melakukan Abstinence Tidak berhubungan seks (Selibat), Be Faithful - Selalu setia pada pasangan, Condom – Gunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi :

 

Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Nasional,

Wisma Sirca Lt 2 Jl Johar No 18 Menteng, Jakarta 10340

Telp (021) 3905918Fax (021) 3905919

www.aidsindonesia.or.id

 

 

Indira Susatio                                                                         Nathasia Sibarani

Koordinator PIAN                                                                   Asisten Koordinator Media

Email: indira.susatio@aidsindonesia.or.id                      Email: nathasia@aidsindonesia.or.id