LAPORAN TAHUNAN
Laporan Pertemuan Nasional IV 2011
Laporan 5 tahun KPA - Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006-2011
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menerbitkan Ringkasan Eksekutif Laporan 5 (lima) Tahun Pelaksanaan Peraturan Presiden No.75/2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dalam bahasa Indonesia yang merupakan pertanggung jawaban Komisi Penanggulangan AIDS Nasional kepada Presiden dan juga bentuk keterbukaan informasi kepada rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya -rakyat Indonesia yang hidup dengan dan terdampak HIV. Dalam laporan ini digambarkan upaya penanggulangan AIDS yang luas dan beragam yang merupakan upaya bersama banyak orang dan lembaga, baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam Laporan ini dijabarkan penjelasan mengenai Latar Belakang Peraturan Presiden No.75/2006, Epidemi dan Upaya Penanggulangannya: Perubahan-perubahan tahun 2006 dan 2011, Mengelola Perubahan: Membangun sistem dan memfungsikannya serta Melihat ke Depan. Laporan 5 Tahun diterbitkan dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Versi Laporan 5 Tahun dalam Bahasa Inggris dapat di download melalui link: http://www.aidsindonesia.or.id/the-response-to-hiv-and-aids-in-indonesia-2006-2011.html  
Download : Ringkasan Eksekutif Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006-2011
Laporan KPA Nasional Tahun 2010
Ringkasan Eksekutif Situasi Epidemi HIV Estimasi Kementerian Kesehatan RI (Kemkes) pada tahun 2009 menyebutkan, orang yang terinfeksi HIV di Indonesia mencapai angka 186.257. Sedangkan dalam laporan kasus yang tercatat di Kemkes, hingga Desember 2010, menyebutkan jumlah kumulatif AIDS adalah 24.131 orang. Laporan kumulatif kasus HIV adalah 55.848 orang. Jika mengacu pada teori puncak gunung es, maka diperkirakan kasus yang terungkap hingga 2010 baru mencapai 43% dari seluruh orang yang terinfeksi di Indonesia. Walaupun secara nasional prevalensi HIV masih tergolong rendah (<0,2%) dengan epidemi terkonsentrasi, tetapi di Tanah Papua prevalensi telah mencapai 2,4% dengan kondisi epidemi umum (low level generalized epidemic). Untuk melakukan pencegahan yang komprehensif, di tahun 2010 KPAN telah melakukan pemetaan kelompok populasi kunci: Pengguna Napza suntik (Penasun), Wanita Pekerja Seks (WPS), Lelaki seks dengan Lelaki (LSL) dan Pelanggan Pekerja Seks (PPS). Dari kecenderungan epidemi, dewasa ini penularan HIV melalui transmisi seksual kembali meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan penularan HIV pada perempuan yang kemudian berdampak pada penularan HIV dari Ibu kepada bayi. Capaian KPA Nasional tahun 2010 Dalam pelaksanaan kegiatan tahun 2010, sesuai Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 tentang KPAN, dicapai kemajuan terkait tugas dan fungsi pokok, yaitu dalam hal pengembangan kebijakan, perencanaan strategik, koordinasi, penyebarluasan informasi, kerjasama regional dan internasional, pengelolaan data dan informasi, pemantauan dan evaluasi, dan penguatan KPA Nasional. Tahun 2010 menjadi tahapan baru dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, dengan terbitnya Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS (SRAN) 2010-2014 yang dikukuhkan dalam Permenkokesra Nomor 8 Tahun 2010. Hal ini makin memperkuat upaya penanggulangan AIDS di Indonesia yang lebih terarah dan terkoordinasi. Berbagai kebijakan untuk mendukung SRAN juga terus dikembangkan, misalnya pada kelompok usia muda, program LSL, dan juga bidang pendidikan dan pelatihan. Secara khusus untuk program pencegahan HIV melalui transmisi seksual telah disusun pedoman Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) sebagai bentuk intervensi struktural. KPAN juga mendorong keterlibatan seluruh sektor di tingkat nasional dan daerah untuk menyusun rencana aksi dan penganggaran guna mendukung keberlanjutan program penanggulangan HIV dan AIDS. Koordinasi antar anggota KPAN berjalan baik. Adanya berbagai kelompok kerja penanggulangan AIDS juga menunjukkan sinergi antar pihak. Perkembangan yang signifikan adalah makin kuatnya jaringan komunitas populasi kunci. Jaringan komunitas ODHA, ODHA perempuan, Penasun, GWL dan Pekerja seks yang telah terbentuk makin menunjukkan kinerja yang baik. Pelibatan masyarakat sipil dalam upaya penanggulangan AIDS di daerah telah didukung melalui Dana Kemitraan Indonesia untuk Penanggulangan AIDS (DKIA – Indonesian Partnership Fund for HIV) dengan pemberian dana hibah selama tahun 2010. Pada tahun 2010 juga makin ditingkatkan program penanggulangan HIV secara komprehensif di 33 Provinsi dan 177 Kabupaten/Kota yang terlihat dengan adanya revitalisasi Sekretariat KPA di Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan keberadaan Sekretaris, pengelola program, dan pengelola administrasi yang bekerja penuh waktu. Hal ini diikuti dengan pembinaan wilayah, serta monitoring dan evaluasi yang teratur dari KPAN. Terkait dukungan internasional, pada tahun 2010 kesepakatan dan dukungan internasional makin meningkat. Ini menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam berkerjasama dan menjadi bagian dari masyarakat global. Perkembangan program dan layanan Program pencegahan komprehensif telah dilakukan, terutama untuk memutus rantai penularan, dengan Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) dan pengurangan dampak buruk penggunaan napza suntik (Harm Reduction/HR). Pada program PMTS, KPAN mendorong program ini dapat berjalan dan mendapat dukungan masyarakat. Konsep utama PMTS adalah melakukan pemberdayaan pada kelompok populasi kunci yang diawali dengan perubahan perilaku pada semua komponen yang melingkupinya serta menciptakan lingkungan kondusif. Program HR pun telah mengalami banyak peningkatan. Telah terjadi penambahan lokasi Layanan Alat Suntik Steril (LASS) dan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM). Selain itu juga mulai dilakukan program rehabilitasi melalui Pemulihan Adiksi Berbasis Masyarakat (PABM). Layanan tes HIV dan dukungan pengobatan dan perawatan juga makin meningkat di seluruh Indonesia. Perkembangan cakupan, efektifitas dan keberlanjutan Pelaksanaan program pada tahun 2010 menunjukkan perkembangan cakupan pada penasun dan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang telah melebihi target. Hasil survei menunjukkan makin turunnya angka berbagi alat suntik pada penasun. Sementara itu pada kelompok WPS Langsung hampir mencapai target. Sementara itu terkait dengan keberlanjutan program, ditandai dengan penggunaan dana dalam negeri yang juga terus meningkat. Langkah ke depan Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah perlu terus meningkatkan cakupan dan efektifitas program, terutama pada pelanggan, LSL dan juga kelompok remaja. Dalam hal ini diperlukan pendekatan yang inovatif dalam kerangka intervensi struktural. Selain itu, dalam penanggulangan AIDS di daerah, yang harus lebih ditingkatkan adalah kepemimpinan dan koordinasi KPA provinsi dan Kabupaten/Kota dengan lebih banyak lagi melibatkan masyarakat.
Download : Laporan KPA Nasional Tahun 2010
Laporan KPA Nasional Tahun 2008
Sejak ditemukannya AIDS pertama kali di Indonesia pada tahun 1987 di Bali, banyak upaya telah dilakukan, dan upaya intensifikasi penanggulangan AIDS kemudian dituangkan dalam Stranas HIV dan AIDS yang diaplikasikan dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) 2007–2010. Selama tahun 2008 pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai kebijakan dan program penanggulangan AIDS. Sektor dan masyarakat telah bersama-sama melaksanakan berbagai upaya demi tercapainya target RAN. Populasi kunci yang terkonsentrasi merupakan kelompok target RAN yang terdiri atas: Penasun (Pengguna napza suntik), WPS (Wanita Penjaja Seks), Waria, LSL (Laki-laki Seks dengan Laki-laki), Pelanggan PS (Penjaja Seks), WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan), dan masyarakat umum Tanah Papua. Pada tahun 2008 ini upaya penanggulangan AIDS telah dilaksanakan. Berbagai kebijakan dan pedoman telah dihasilkan baik di tingkat nasional maupun daerah. Permendagri No.32 tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Daerah tahun 2009 dan Permenkokesra No.02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS Melalui Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Suntik merupakan beberapa kebijakan yang berhasil disusun.
Download : Case Study on Estimating HIV Infection in a Concentrated Epidemic : Lesson from Indonesia